Beranda > Tak Berkategori > The Alchemy of Finance (Summary)

The Alchemy of Finance (Summary)

Buku The Alchemy of Finance ditulis oleh George Soros yang mencoba untuk mengubah paradigma lama dalam teori ekonomi dan keuangan menjadi paradigma baru yang dilandasi oleh pemikiran-pemikirang dalam ilmu filsafat. Berikut adalah ringkasan teori secara singkat dari The Alchemy of Finance:

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Pengantar Resensi

Paper ini terdiri dari 3 bab, yaitu pendahuluan, ringkasan, dan pendapat dan tips. Melalui paper ini, kami mencoba menggali strategi investasi dari kesuksesan George Soros di dunia keuangan dan ekonomi, melalui pemahaman konsep teori refleksivitas. Secara garis besar, buku ini menjelaskan tentang konsep filosofis teori refleksivitas melalui studi kasus dari berbagai fenomena dunia ekonomi dan keuangan internasional yang telah terjadi di masa lampau. Dalam hal ini, kami akan mencoba untuk menyederhanakannya menjadi tips-tips berinvestasi yang mudah dimengerti dan diaplikasikan.

1.2 Profil Penulis

George Soros lahir 12 Agustus 1930 adalah seorang Hungaria-Amerika, menyelesaikan pendidikan di London School of Economics. Soros adalah seorang speculator mata uang, investor saham, businessman, philanthropist, dan penasihat politik liberal. Soros terkenal sebagai “the man who broke the Bank of England” setelah mendapat keuntungan 1 milyar dollar US pada tahun 1992. Soros adalah pemilik Soros Fund Management, Open Society Institue, dan mantan anggota dewan direksi Council on Foreign Relations. Quantum Fund yang dikelolanya tercatat sebagai dana investasi yang paling sukses sepanjang masa, dengan tingkat pengembalian rata-rata 31% per tahun selama lebih dari 30 tahun. Soros juga terkenal akan tindakannya yang mengguncang dan menyebabkan krisis ekonomi di Asia, antara lain Korea Selatan, Indonesia dan Thailand. Nilai kekayaan terakhirnya yang tercatat adalah 14 milyar dollar US.

1.3 Profil Buku

Buku yang akan kami resensi pada paper ini berjudul “The Alchemy of Finance” dengan tema “Rumus Sukses Dunia Finansial dan Investasi,” merupakan terjemahan dari buku aslinya yang berbahasa Inggris. Pertama kali diterbitkan oleh John Wiley & Sons tahun 1987, dan dicetak kembali dalam bahasa Indonesia oleh Daras Books pada Mei 2010. Buku ini memiliki dimensi 18,5 cm x 24,5 cm, berberat 735 gram, dan berjumlah 408 halaman. Buku ini terdiri atas kata pengantar, pendahuluan, bagian isi buku, yaitu 5 bab dan 19 sub-bab, berikut epilog, dan apendiks. Daftar isi buku yang dapat dilihat pada Lampiran 1.

BAB II

RINGKASAN BUKU

2.1 Pendahuluan Baru

2.1.1 Konsep Reflekstivitas

Di dalam situasi dimana ada para partisipan berpikir, terdapat interaksi dua arah antara pemikiran partisipan dan situasi dimana mereka berpartisipasi. Di satu sisi, para partisipan mencoba memahami realitas, di sisi lain mereka mencoba menciptakan hasil yang diinginkan. Kedua fungsi itu bergerak ke arah berlawanan: dalam fungsi kognitif, realitas adalah apa yang terpampang; dalam fungsi partisipasi, pemahaman partisipan menjadi konstanta. Kedua fungsi dapat saling mempengaruhi dengan merepresentasikan apa yang dianggap sebagai kenyataan. Interferensi antara kedua fungsi ini disebut ‘refleksivitas’. Refleksivitas menyebabkan pemahaman para partisipan menjadi tidak sempurna dan memastikan bahwa segala tindakan mereka akan membawa dampak yang dimaksudkan.

2.1.2 Refleksivitas dan Teori Ekonomi

Hipotesis pasar efisien mengklaim bahwa harga pasar sepenuhnya mencerminkan semua informasi yang ada. Teori ekspektasi rasional yang terkait erat menyatakan bahwa, dalam ketiadaan kejutan eksternal, pasar keuangan cenderung bergerak menuju keseimbangan yang secara akurat merefleksikan ekspetasi para partisipan. Dalam pemahaman Soros, teori ekspektasi rasional menegaskan bahwa para partisipan pasar, dalam upaya mereka mengejar kepentingan pribadi, mendasari keputusan mereka pada asumsi bahwa partisipan lain akan berbuat sama. Pikiran ini terdengar masuk akal, namun sebenarnya tidak. Pasalnya, para partisipan tidak bertindak atas dasar kepentingan terbaik mereka melainkan atas persepsi mereka mengenai kepentingan terbaik mereka, dan keduanya tidaklah sama. Teori ekspektasi rasional menjelaskan bahwa pasar secara keseluruhan selalu memiliki pengetahuan lebih banyak daripada tiap partisipan (dengan kata lain pasar selalu benar). Soros berkeyakinan bahwa pasar keuangan selalu salah, dalam arti bahwa mereka beroperasi dengan bias yang berlaku; namun bias tersebut dapat memvalidasi diri sendiri dengan mempengaruhi bukan hanya harga pasar tapi juga apa yang disebut sebagai fundamental-fundamental yang seharusnya dicerminkan harga pasar.

2.1.3 Prinsip Ketidakpastian Manusia

Prinsip ketidakpastian manusia menyatakan bahwa pemahaman manusia mengenai dunia tempat mereka tinggal tidak berkorespondensi dengan fakta dan tidak lengkap serta tidak koheren pada saat bersamaan. Realitas bersifat sangat rumit. Hukum-hukum yang berlaku bagi fenomena alam beroperasi secara independen terlepas dari apa pun yang dipikirkan orang. Kriteria independen yang dapat digunakan untuk menilai validasi hipotesis ilmiah merupakan suatu keuntungan bagi metode ilmiah. Namun, bila sudah berkenaan dengan berbagai peristiwa yang memiliki partisipan manusia, pengetahuan ilmiah lebih sulit diperoleh, dan pemikiran memainkan peran yang lebih aktif dan kreatif, baik dalam memahami maupun membentuk peristiwa tersebut. Orang mendasari tindakan mereka bukan pada realitas melainkan pada pandangan mereka mengenai dunia, dan keduanya tidak identik.

Ilmu sosial tidak dapat memenuhi standar dan tuntutan ilmu alam. Oleh karena itu, teori-teori ilmu sosial yang mendasari klaim validitas mereka pada status ilmiah sebenarnya membuat pernyataan yang salah. Teori sosial harus mendasari klaim validitas mereka pada kelebihan mereka sendiri dan bukannya dengan ikut parade ilmu alam. Yang membuat refleksivitas menarik adalah bahwa bias yang berlaku memiliki cara, melalui harga pasar, untuk mempengaruhi apa yang disebut sebagai fundamental-fundamental yang seharusnya direfleksikan harga pasar. Refleksivitas menjadi cukup signifikan untuk mempengaruhi alur peristiwa hanya bila fundamental-fundamental itu terpengaruh. Istilah refleksivitas menggambarkan mekanisme umpan-balik dua arah antara fungsi kognitif dan partisipatif maupun proses boom-bust dalam pasar keuangan.

Peran pemikiran dalam pengetahuan alam bersifat benar-benar pasif dalam arti bahwa suatu pernyataan hanya dapat merefleksikan (atau gagal merefleksikan) fakta; pernyataan tidak dapat mempengaruhi fakta. Ilmu pengeahuan sosial memiliki para partisipan dengan pemikiran yang merefleksikan dan mempengaruhi situasi tempat mereka berpartisipasi. Pemikiran dan realitas tidak dapat diperlakukan sebagai kategori berbeda, karena mereka saling terkait secara refleksif.

2.1.4 Paradigma Baru

Paradigma baru tidak dapat memperlakukan fakta seolah-olah fakta tersebut merepresentasikan realitas dan memperlakukan pernyataan seolah-olah pernyataan merepresentasikan pemikiran. Pemikiran membentuk bagian realitas dan bukannya terpisah dari realitas. Selama ini kita belajar membedakan antara fakta dan pernyataan, realitas dan ide. Kini kita dituntut untuk memandang realitas sebagai penggabungan ide dan fakta serta pernyataan.

2.2 Refleksivitas Dalam Pasar Saham

Teori yang berkembang saat ini di pasar saham adalah bahwa hubungan antara harga saham dan perusahaan yang sahamnya diperdagangkan adalah bersifat satu arah. Kekayaan perusahaan menentukan nilai relatif saham yang diperdagangkan. Teori ini juga menyatakan bahwa ‘pasar selalu benar’. Jika ada perbedaan mencolok antara harga saham yang berlaku dengan nilai fundamental, perbedaaan itu ada hubungannya dengan perkembangan masa depan di perusahaan terkait yang belum diketahui namun diantisipasi dengan benar oleh pasar.

Soros mengeluarkan dua pernyataan tentang pasar saham:

  1. Pasar selalu bias ke satu arah atau lainnya.
  2. Pasar dapat mempengaruhi peristiwa-peristiwa yang diantisipasi pasar itu sendiri.

Soros menyatakan bahwa pasar memiliki banyak partisipan dengan pandangan yang pasti berbeda-beda. Banyak dari bias individual (yang tercermin dalam pembelian dan penjualan) tersebut yang saling menegaskan dan secara bersama-sama membentuk ‘bias yang berlaku’. Bias positif menghasilkan kenaikan harga saham dan bias negatif menghasilkan penurunan harga saham. Ada hubungan refleksif dimana harga saham ditentukan oleh dua faktor—tren latar dan bias yang berlaku. Hubungan ini bersifat interaktif dan tidak memiliki konstanta: apa yang seharusnya merupakan variabel mandiri dalam suatu fungsi menjadi variabel tergantung dalam fungsi yang lain. Dalam urutan tipikal, ketiga variabel saling memperkuat terlebih dahulu dalam gerak satu arah dan kemudian bergerak ke arah yang lain.

Generalisasi yang bisa disimpulkan adalah: (1) bahwa harga saham pasti memiliki suatu dampak terhadap fundamental, dan (2) bahwa terdapat cacat dalam persepsi partisipan mengenai fundamental yang dapat memicu pembalikan dalam bias yang berlaku.

2.3 Refleksivitas Dalam Pasar Mata Uang

Pandangan tradisional mengenai pasar mata uang adalah bahwa pasar tersebut cenderung menuju keseimbangan. Namun, fakta menunjukkan bahwa hubungan antara tingkat inflasi dalam negeri dan nilai tukar internasional tidaklah bersifat satu arah melainkan bersifat lingkaran. Pergerakan modal internasional cenderung mengikuti sebuah pola memperkuat diri/koreksi diri yang serupa dengan pola yang telah diidentifikasi dalam pasar saham. Perbedaannya, dalam pasar mata uang, kita membutuhkan lebih dari dua variabel, diantaranya: nilai tukar nominal (e), tingkat suku bunga nominal (i), tingkat harga dalam negeri versus harga asing, tingkat aktivitas ekonomi (v), aliran modal non-spekulatif (N), aliran modal spekulatif (S), neraca perdagangan (T), dan anggaran pemerintah (B). Hubungan-hubungan antar variabel tersebut bersifat sirkuler; artinya, variabel-variabel dapat berfungsi sebagai sebab maupun akibat dalam kaitannya dengan variabel lain. Selain itu, hubungan variabel-variabel tersebut tidak perlu konsisten secara internal; inkonsistensi-inkonsistensi itulah yang membuat seluruh situasi bergerak dalam suatu arah tertentu. Berikut adalah model paling sederhana mengenai sebuah sistem nilai tukar mengambang bebas:

(↓T + ↑N + ↑S) à↓e

Bias yang dilakukan oleh partisipan terwujud hanya dalam transaksi modal spekulatif (S), sementara perdagangan (T) dan aliran modal non-spekulatif (N) merepresentasikan ‘fundamental’ (tidak tergantung ekspektasi). Modal spekulatif bergerak dalam upaya mencari total imbal hasil tertinggi. S dipengaruhi oleh nilai tukar (e) dan suku bunga (i).

↑ (e + i) à↓S

Ekspektasi mengenai nilai tukar di masa depan merepresentasikan motivasi utama dalam transaksi modal spekulatif. Sejauh nilai tukar didominasi oleh S, mereka murni refleksif: ekspektasi berhubungan dengan ekspektasi dan bias yang berlaku dapat memvalidasi diri hampir secara tidak terbatas. Proses reflektif cenderung mengikuti sebuah pola tertentu. Dalam tahap-tahap awal, tren tersebut bersifat memperkuat diri; jika tidak, proses tersebut batal. Saat tren meluas, tren tersebut semakin rentan karena fundamental bergerak melawan tren (dan tren tersebut semakin bergantung pada bias yang berlaku). Pada akhirnya, titik balik tercapai dan, dalam sebuah urutan lengkap, proses memperkuat diri mulai beroperasi dalam arah berlawanan.

Walau tiap lingkaran yang memperkuat diri bersifat unik, kita dapat membuat beberapa generalisasi yang valid secara universal mengenai nilai tukar fluktuatif bebas. Pertama, nilai penting relatif transaksi spekulatif cenderung meningkat selama usia sebuah tren yang memperkuat diri. Kedua, bias yang berlaku adalah bias yang mengikuti tren, dan semakin lama tren itu bertahan, semakin kuat bias itu jadinya. Ketiga, begitu sebuah tren terbangun, tren itu cenderung berlanjut dan bergulir hingga titik klimaks, tren itu cenderung memicu sebuah proses yang memperkuat diri dengan arah berlawanan.

Kredit diasosiasikan dengan dengan jenis pola refleksif tertentu yang dikenal sebagai boom-bust. Kredit bergantung pada ekspektasi; ekspektasi melibatkan bias; oleh karenanya kredit merupakan salah satu tempat utama yang memungkinkan bias memainkan peran sebab-akibat dalam alur peristiwa. Pola ini asimetris: boom tercipta dan berakselerasi secara bertahap; bust bersifat tiba-tiba dan seringkali mencapai level bencana. Bentuk asimetris ini muncul akibat hubungan refleksif antara agunan dan pinjaman. Valuasi dari agunan seharusnya merupakan hubungan pasif: nilai aset mencerminkan aset latar. Namun dalam kasus kredit, valuasi melibatkan tindakan positif: kredit dikucurkan. Tindakan memberi pinjaman mungkin mempengaruhi nilai agunan: yaitu hubungan yang menimbulkan proses reflektif.

Boom-bust tidaklah simetris karena, di awal sebuah boom, baik volume kredit maupun nilai agunan berada pada titik minimum; pada saat terjadi bust, keduanya berada pada titik maksimum. Boom-bust merupakan sebuah varian spesifik dari refleksivitas. Boom dapat terjadi kapan pun terdapat sebuah hubungan dua arah antara nilai dan tindakan valuasi.

2.4 Lingkar Imperial Reagan

Pada pemerintahan Presiden Ronald Reagan, kebijakan fiskal dan moneter didominasi oleh dua aliran pemikiran yang saling berseberangan. Kebijakan fiskal dipengaruhi oleh ilmu ekonomi “sisi persediaan”, sementara kebijakan moneter dikendalikan oleh ajaran monetarisme. Penganut monetarisme meyakini bahwa tujuan utama adalah mengendalikan inflasi, dan, oleh karenanya, persediaan uang harus diregulasi secara ketat. Federal Reserve membiarkan suku bunga dana federal berfluktuasi secara bebas. Dalam anggaran pertamanya, Presiden Reagan memangkas pajak dan meningkatkan belanja militer secara bersamaan. Hal ini mengakibatkan defisit anggaran yang besar. Situasi ini menyebabkan terjadinya hubungan sirkuler yang disebut Geroge Soros sebagai Lingkar Imperial Reagan karena hubungan tersebut mendanai sikap militer yang keras dengan menarik barang maupun modal dari luar negeri. Dimana perekonomian yang kuat, nilai tukar kuat, defisit anggaran yang besar, dan defisit perdagangan yang besar saling memperkuat untuk kemudian menghasilkan pertumbuhan non-inflatif.

2.5 Evolusi Sistem Perbankan

Perbankan memberikan andil dalam krisis untang internasional tahun 1982. Mereka semakin agresif dalam memberikan pendanaan, menutupi kredit bermasalah dengan menawarkan kredit tambahan. Regulasi selalu tertinggal selangkah dari peristiwa. Pada saat regulator mengetahui masalah yang terjadi, langkah koreksi mereka cenderung memperparah situasi. Pada saat pihak otoritas mengetahui bahwa kredit internasional tidak aman, sudah terlambat untuk mengoreksi situasi karena akan menyebabkan keruntuhan. Saat mereka akhirnya memaksa bank-bank mengakui kerugian, tindakan itu menciptakan keruntuhan nilai jaminan dalam bidang seperti pertanian, industri perminyakan dan pengapalan. The Fed dipaksa memperluas perannya sebagai pemberi pinjaman terakhir (borrower of the last resort) dan menjamin semua penabung terhadap kerugian, tanpa peduli sebesar apa pun simpanan mereka.

2.6 “Oligopolarisasi” Amerika

Dalam konteks Lingkar Imperial Reagan, ada sebuah perkembangan reflesif penting lainnya yang sedang terjadi: struktur korporat AS mengalami perombakan ulang dengan cara merger, akuisisi, divestasi, dan leveraged buyout. Selama belanja bunga dapat diperhitungkan sebagai pengurang pajak, akuisisi perusahaan dengan menggunakan dana tunai pinjaman akan menguntungkan karena akan terjadi penghematan dalam pembayaran pajak. Itulah salah satu motivasi dalam leveraged buyout. Kombinasi antara tingkat suku bunga tinggi dengan mata uang yang divaluasi berlebihan terbukti menjadi sebuah ramuan ampuh. Tingkat suku bunga riil yang tinggi ,e,buat set aset keuangan menjadi lebih menarik dan investasi fisik menjadi kurang menarik, oleh karenanya orang terdorong untuk menggunakan dana tunai sebagai aset keuangan dengan membeli saham atau mengakuisisi perusahaan lain.

Tidak ada reformasi undang-undang antimonopoli secara formal, namun terjadi pergeseran radikal dalam apa yang dianggap sebagai sebuah pelanggaran antimonopoli. Saham pasar tidak lagi dipandang dalam konteks statis melainkan dinamis. Kompetisi tidak harus terjadi dalam satu industri tertentu karena perusahaan dapat saling bersaing merki berbeda industri. Selain itu, pasar AS tidak lagi dipandang secara terpisah, George Soros menyebut proses ini sebagai “oligopolarisasi” Amerika.

2.7 Eksperimen Real Time

Pada awal 1984 dolar terus naik dari sebelumnya, perekonomian sedemikian kuat sampai-sampai mengalahkan kenaikan suku bunga. Titik kritis tercapai sekitar kuartal akhir 1984. Kecepatan perekonomian mulai melambat dan suku bunga mulai menurun, namun dolar, setelah sempat turun, terus menguat. Industri Amerika mulai beralih ke impor dan manufaktur berbasis asing. Kuatnya nilai tukar dolar akhirnya menjadi sebuah masalah bagi Amerika.

George Soros menciptakan sebuah eksperimen real-time untuk menguji teorinya dalam Quantum Fund, sebuah instrumen unik yang beroperasi di banyak pasar, secara umum menginvestasikan ekuitas dalam saham dan menggunakan leverage untuk berspekulasi dalam komoditas. Komoditas mencakup indeks saham berjangka dan obligasi serta mata uang.

Eksperimen ini dibagi dalam tiga tahap, yakni fase 1 (Agustus 1985 – Desember 1985), periode kontrol (Januari 1986 – Juli 1986), dan fase 2 (Juli 1986 – November 1986). Selama Fase 1 eksperimen ini, aktivitas Fund berputar terutama pada isu ekonomi makro; konsep ekonomi mikro tidak banyak berubah, dan kontribusi konsep ekonomi mikro terhadap kinerja dana ini relatif tidak signifikan. Oleh karenanya, dalam merangkum posisi investasi Fund, Geroge Soros hanya fokus pada aspek makro. Situasi ini berubah selama Periode Kontrol: konsep-konsep investasi semakin berkontribusi bagi kinerja Fund. Ini sejalan dengan kesimpulan makro Soros bahwa sudah waktunya bermain di pasar saham. Karena aksi mikro menjadi penting hanya selama Periode Kontrol, Soros menahan diri untuk tidak membahasnya, dengan satu pengecualian: aksi Soros di saham-saham Jepang yang terkait dengan lahan jasa masuk dalam diskusi di Fase 2.

Gambar 2.1 Nilai Aset Bersih per Saham Quantum Fund

Gambar 2.2 Nilai Aset Quantum Fund

2.8 Jangkauan Alkimia Finansial: Evaluasi Eksperimen

Bagian ini berisikan evaluasi eksperimen real time pada periode Agustus 1985 hingga November 1986. Dapat dikatakan, Fase 1 adalah periode sejahtera, dan Fase 2 adalah periode kerugian. Pada Fase 1, saham quantum fund terapresiasi sebesar 126%, dan angka ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan kenaikan 27% indeks S&P, 30% future obligasi departemen keuangan, 23% DM, dan 34% yen. Sebaliknya Fase 2 menunjukkan kerugian. Quantum fund menurun sebesar 2%. Namun Soros menganggap ini sebagai kinerja memuaskan, bila dibandingkan dengan 2% peningkatan indeks S&P, 2% penurunan future obligasi departemen keuangan, kenaikan 1% future obligasi pemerintah Jepang, 5% kenaikan indeks saham Jepang, 10% kenaikan DM, 2% penurunan Yen, 14% kenaikan emas, dan 40% kenaikan minyak.

Dalam hal ini dapat dipelajari bahwa, seorang George Soros pun bukanlah orang yang dapat memprediksi masa depan. Namun, satu hal yang dapat dipelajari adalah cara Soros untuk merevisi secara terus menerus ramalannya sesuai perkembangan pasar. Pendekatannya berhasil bukan dengan membuat prediksi yang valid, melainkan dengan membiarkan dirinya mengoreksi hal yang salah. Jika ini adalah eksperimen ilmiah, kesukesan finansial soros bertidak sebagai bukti validitas hipotesis yang menjadi dasar keputusan. Dalam hal ini, Soros meluruskan bahwa segala eksperimen keuangannya bukanlah sebuah metode ilmiah, melainkan metode alkimia, karena teori-teori ilmah harus valid secara universal, sementara teorinya bekerja secara tak teratur. Sebuah proses refleksif tidak bisa diprediksikan oleh metode ilmiah, dan eksperimen secara langsung merupakan upaya kesengajaan untuk mengeksplorasi metode alternative, dan hal ini disebut sebagai alkimia. Metode ilmiah berusaha memahami berbagai hal seperti adanya, sementara alkimia berusaha menciptakan suatu kondisi yang diinginkan. Dengan kata lain, tujuan ilmu pengetahuan adalah kebenaran, sementara tujuan alkimia adalah sukses oprasional.

Fenomena alam mempunyai hukum yang beroperasi secara mandiri, untuk mengendalikannya adalah dengan memahami dan menerapkan hukum-hukum tersebut, sehingga metode alkimia tidak bisa diterapkan di sini. Berbeda dengan fenomena sosial, dimana fenomena ini memiliki partisipan yang berpikir. Pemikiran partisipan merupakan bagian integral dari persoalan subyek. Ini menciptakan wadah untuk alkimia yang tidak ada pada lingkup ilmu pengetahuan alam. Pasar keuangan memiliki kemiripan yang menarik dengan metode ilmiah, yaitu keduanya melibatkan pengujian hipotesis. Tetapi ada perbedaan fundamental yaitu, pengujian ilmu pengetahuan bertidak membangun kebenaran, sedangkan pengujian pasar keuangan berkriteria sukses oprasional, sehingga kedua kriteria ini tidak bersinggungan. Teori ilmiah dinilai oleh fakta-fakta, sedangkan keputusan keuangan dinilai oleh pandangan partisipan yang terdistorsi. Alih-alih metode ilmiah, pasar keuangan membentuk metode alkemia.

2.9 Kebingungan Ilmu Pengetahuan Sosial

Metode ilmiah didasarkan pada anggapan bahwa eksperimen yang sukses mendukung validitas hipotesis yang didisain untuk diujinya. Tapi dalam situasi dengan partisipan yang berpikir, sukses eksperimental tidak menjamin kebenaran atau pernyataan yang telah diuji. Dalam hal ini, Soros berpendapat bahwa ilmu pengetahuan social adalah metafora palsu dan kita akan lebih untung jika menganggapnya seperti itu. Ilmu pengetahuan alam membutuhkan kriteria objektif untuk mengevaluasi kebenaran atau validitas pernyataan, dan kriteria objektif diisi oleh fakta-fakta. Tetapi fakta hanya bisa bertidak sebagai kriteria objektif hanya bila sepenuhnya independen dari pernyataan yang berhubungan dengannya. Itulah yang terjadi pada ilmu pengetahuan alam, dimana satu fakta mengikuti lainnya terlepas dari apa yang dipikirkan siapa pun. Tapi itu tak terjadi dalam ilmu pengetahuan social, dimana peristiwa melibatkan bias partisipan. Keberadaan partisipan yang berpikir amat memperumit struktur peristiwa, yaitu partisipan yang berpikir mempengaruhi arah peristiwa dan arah peristiwa mempengaruhi partisipan yang berpikir. Lebih buruk lagi, para partisipan memengaruhi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika arah peristiwa dipengaruhi oleh bias partisipan, peristiwa masa depan terbuka pada manipulasi oleh pengamat dengan cara yang tak mungkin dalam ilmu pengetahuan alam. Karena alkemia tidak mampu mempengaruhi fenomena alam, ilmu pengetahuan social menghadapi masalah yang tak sejajar dengan ilmu pengetahuan alam. Tujuan yang ditegaskan oleh ilmu pengetahuan adalah pencarian kebenaran, tapi ketika masalah subjeknya terbuka pada manipulasi, para partisipan mungkin lebih tertarik mengubah arah peristiwa dibandingkan memahaminya.


BAB III

TIPS DAN PENDAPAT

3.1 Tips Berinvestasi

Tips-tips untuk berinvestasi yang dapat kita petik dari George Soros antara lain:

  • Bagaimana pun juga, sebuah investasi tidak terlepas dari spekulasi.
  • Jangan semata-mata mempercayai pergerakan trend pada harga instrument keuangan, tanpa melihat nilai fundamental yang terkandung di dalamnya.
  • Khususnya bila ingin berinvestasi pada instrument keuangan internasional, nilai Fundamental yang harus diperhatikan adalah kondisi keuangan internasional, kondisi politik negara, kondisi ekonomi negara, dan kebijakan ekonomi (fiscal dan moneter).
  • Mewaspadai jika terdapat gejala-gejala Boom-Bust Model, terdapat pada Gambar 3.1, pada instrumen keuangan. Dalam hal ini khususnya untuk harga saham, nilai tukar, kredit, dan utang internasional. Tentunya dengan disertai analisis fundamental, dan waktu yang tepat untuk masuk atau keluar dari pasar, kita dapat meraih keuntungan yang sangat besar.

Gambar 3.1 Model Boom Bust

  • Membentuk portfolio pada instrumen keuangan di negara-negara maju (US, Jepang, Eropa), khususnya pada saat terjadi boom-bust atau krisis, dan secara terus-menerus melakukan analisis dan revisi portfolio tersebut. Pada Gambar 3.2 berikut ditampilkan perkembangan komposisi portfolio Quantum Fund (Agustus 1985 – Desember 1985).

Gambar 3.2 Quantum Fund Portfolio (Long)

Gambar 3.3 Quantum Fund Portfolio (Short)

3.2 Pendapat

Buku berjudul “The Alchemy of Finance” ini menarik, karena dapat memberikan paradigma dan pandangan baru (ala George Soros) untuk dunia keuangan dan ekonomi, khususnya bagi para investor dan akademisi. Terlihat George Soros, sebagai pengarang buku, adalah seorang pemikir independen yang mempunyai pandangan kontradiktif dengan kebanyakan orang yang juga bergelut di dunia investasi keuangan dan peneliti akademisi. Soros cenderung menentang bentuk-bentuk teori keuangan dan teori ekonomi yang ada, dengan menggunakan konsep hasil pemikirannya sendiri, yaitu teori refleksivitas. Meskipun pendapat Soros cenderung ditentang oleh para peneliti keuangan dan jajaran akademisi, karena aksinya yang dianggap kurang menghargai temuan ilmiah para peneliti keuangan dan ekonomi, kesuksesannya di dalam dunia keuangan beserta serentetan bukti yang ada membuat mereka hanya bisa menutup mulut.

George Soros sendiri sebenarnya bukanlah seorang investor atau seorang ekonom, melainkan seorang filusuf. Di dalam tulisannya, Soros pun mengungkapkan bahwa ketertarikan sesungguhnya terletak pada pencarian kebenaran filosofis. Soros menggunakan pasar keuangan hanya sebagai laboratorium uji coba untuk teori refleksivitas, karena pasar keuangan dapat mencerminkan hasil akutal dan tidak menyisakan banyak ruang bagi ilusi. Untuk menguji kebenaran teori filosofisnya itu, Soros kemudian terjun di dunia keuangan secara langsung, dan berhasil menjadi seorang investor yang sangat sukses.

Buku ini dinilai cukup membingungkan untuk dibaca dan agak sukar untuk dimengerti, karena untuk memahaminya secara keseluruhan, dibutuhkan pengetahuan dan konsep mendasar tentang dunia finansial, ekonomi, dan keuangan internasonal. Bila tidak memiliki fondasi pengetahuan tersebut dengan cukup kuat, maka dijamin para pembaca hanya akan menemukan kebingungan akan tulisan-tulisan Soros dan dapat menganggap isinya menyesatkan. Ditambah lagi dengan struktur pemikiran Soros, seorang filusuf, yang cenderung berbelit-belit, sehingga memberikan kesan sedang membaca sebuah buku filsafat, dan bukanlah sebuah buku tips berinvestasi yang sederhana.

Buku ini juga tidak direkomendasikan sebagai acuan penelitian akademis, karena beberapa dua hal. Pertama, karena buku ini dinilai kurang aktual, karena diterbitkan pertama kali pada tahun 1987, meskipun bagian pendahuluannya selalu direvisi oleh Soros sendiri setiap dicetak ulang pada tahun 1994 dan 2003, kemudian baru diterbitkan dengan bahasa Indonesia tahun 2010. Kedua, Soros cenderung menentang teori-teori akademisi yang telah ditemukan, sehingga dinilai kurang relevan. Namun di samping itu, buku ini dapat membuka wawasan bahwa segala teori dan model yang ada masih sangat jauh dari sempurna, karena masih banyaknya penerapan asumsi pada penelitian. Sebagai saran untuk para mahasiswa Magister Manajemen UPH, konsentrasi keuangan, hal yang dapat dipetik adalah bahwa kesempatan untuk mempelajari dunia keuangan masih sangat terbuka lebar dan akan terus berkembang, selama masih ada keterlibatan manusia yang berpikir secara refleksif pada dunia keuangan dan investasi. Jadi, tidak perlu khawatir jika kita akan kehabisan ide atau mengembangkan model di dalam membuat tesis.

  1. 8 Januari 2012 pukul 15:26

    tanks brooo dngan referensinya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: